IBX5B7AAC72C70DE Gunung Ciremai, Gunung Berapi Tertinggi di Jawa Barat, Favorit Pendaki Gunung di Indonesia - Serambi Bisnis

Gunung Ciremai, Gunung Berapi Tertinggi di Jawa Barat, Favorit Pendaki Gunung di Indonesia

SerambiBisnis.com - Gunung Ciremai atau disebut juga Gunung Ceremai adalah gunung berapi tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut. Gunung ini menjadi salah satu favorit pendaki gunung di Indonesia. Gunung Ciremai kokoh menancap di dua wilayah di Jawa Barat, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka. Gunung Ciremai digolongkan ke dalam gunung soliter, artinya gunung yang terpisah dengan gunung-gunung lain. Untuk mendaki ke puncak Ciremai atau istilahnya muncak dapat melewati empat jalur pendakian.

Tiga jalur berada di Kabupaten Kuningan, terdiri atas jalur Linggajati, jalur Linggasana, dan jalur Palutungan. Satu jalur lainnya adalah Jalur Apuy di Dusun Apuy, Kabupaten Majalengka.

Jalur Palutungan yang paling populer serta paling mudah aksesnya. Jalur itu disarankan untuk pendaki pemula karena relatif landai walaupun jaraknya lebih panjang dari jalur Apuy. Jalur Linggarjati dan Linggasana memillki karakter medan yang menantang sehingga dibutuhkan waktu tempuh lebih lama.

superadventure.co.id

Puncak Ciremai memiliki keunikan, antara lain terdapat kawah ganda di arah barat dan timur, dengan radius 600 meter dan kedalaman 250 meter.

Dalam satu bulan, pendaki yang muncak dapat mencapai sekitar 2.500 orang untuk Pos Pendakian Palutungan. Sepanjang 2018, jumlah pendaki yang berangkat dari Pos Pendakian Palutungan mencapai 25.000 orang. Total waktu pendakian mencapai 8-9 jam. Biasanya pendakian dilakukan pada malam hari.

Sebelum muncak, pendaki harus mendaftarkan diri terlebih dahulu ke kantor Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) untuk mendapatkan Surat Izin Masuk Kawasan Koservasi (Simaksi). TNGC merupakan hutan konservasi yang diresmikan pada 2014 berdasarkan SK Menhut RI No 424/Menhut-l1/2004 pada 19 Oktober 2004. Saat ini, tiket pendakian dapat dipesan secara online dengan tarif Rp 60.000.

Sebagai hutan konservasi, TNGC memiliki luas 15.500 hektare, yang terdiri atas 8.699,87 ha di Kabupaten Kuningan dan 6.800,13 ha di Kabupaten Majalengka. Menurut kuningankab.go.id, kawasan TNGC kebanyakan adalah hutan alam primer (virgin forest) yang dimasukkan ke dalam hutan hujan dataran rendah, hutan hujan pegunungan, dan hutan pegunungan subalpin.

Kelompok hutan di kawasan Gunung Ciremai merupakan habitat flora fauna unik dan langka, seperti elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan macan kumbang/tutul (Panthera pardus). Ada juga surili (Presbytis comata), lutung (Presbytis cristata), kijang (Muntiacus muntjak), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), ular sanca (Phyton molurus), meong congkok (Felis bengalensis), elang hitam (Ictinaetus malayensis), ekek kiling (Cissa thalassina), dan berbagai jenis burung.

Di bidang flora, hutan Gunung Ciremai memiliki lebih dari 119 koleksi tumbuhan terdiri atas 40 koleksi anggrek dan 79 koleksi nonanggrek. Terdapat juga koleksi tanaman hias yang menarik, seperti kantong semar (Nepenthaceae) dan dadap jingga (Erythrina sp).

Panorama alam di Gunung Ciremai sangat variatif dan memiliki nilai estetika tinggi, seperti pesona matahari terbit di puncak Ciremai, hutan alam yang indah, keindahan air terjun di lembah, pemandian alam, dan sumber air panas. [Source : Epul Saepuloh/PRM/27102019]

Share this article :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Herbal

Kuliner

Properti

Teknologi

Kecantikan

Kesehatan

Otomotif

Wisata