Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melihat Representasi Perempuan dalam Film Lewat Bechdel Test Fest


Representasi perempuan dalam film telah menjadi topik yang relevan selama beberapa dekade, khususnya dalam 4-5 tahun terakhir ini. Akhirnya muncullah Bechdel Test Fest yang merupakan festival pemutaran film yang menampilkan keterwakilan dan peran perempuan dalam karya-karya film. Bechdel Test Fest menjadi wadah bagi para insan perfilman guna membahas dan berbincang-bincang seputar film, terutama membahas dari segi feminisnya dan keterwakilan perempuan yang digambarkan dalam sebuah film.

Menurut bechdeltestfest.com, mungkin Bechdel Test adalah parameter paling populer untuk melihat representasi perempuan dalam film. Tes Bechdel sebenarnya pertama kali diperkenalkan pada tahun 80-an dan muncul dalam komik Dykes to Watch Out For karya Alison Bechdel yang diterbitkan pada tahun 1985). Bechdel berbagi ide pertama untuk tes tersebut dengan temannya yang bernama Liz Wallace sehingga disebut juga Tes Bechdel-Wallace. 

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar lolos Bechdel Test  sehingga dapat ikut meramaikan ajang Bechdel Test Fest. Aturannya sederhana dan jelas, yakni harus ada setidaknya 2 nama karakter wanita, mereka harus berbicara satu sama lain, dan percakapan harus tentang sesuatu selain pria. Karakter di dalam komik strip tersebut mengatakan bahwa ia hanya akan pergi nonton film jika film itu lolos tes. 

Bechdel Test tersebut meraih popularitas hingga tahun 2000-an ketika wacana seputar wanita dalam film mulai mendapatkan perhatian yang semakin banyak. Inspirasi datang dari esai tahun 1929 oleh Virginia Woolf A Room of One's Own di mana ia melihat bagaimana penggambaran perempuan dalam fiksi selalu terbatas pada hubungan mereka dengan laki-laki. 

Tiga kriteria Bechdel Test ini digunakan sebagai cara untuk melacak kehadiran aktif perempuan dalam film dan fiksi serta menyasar isu ketidaksetaraan gender. Banyak studi media menunjukkan bahwa mereka yang lolos Tes Bechdel memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjadi sukses secara finansial. Selain itu, penelitian yang berbeda mengungkapkan tidak hanya fakta bahwa proporsi umumnya 2 karakter laki-laki untuk setiap perempuan, tetapi juga bahwa perempuan dua kali lebih mungkin terlibat dalam konten seksual. 

Mengutip dari laman https://bechdeltestfest.com/ inilah beberapa judul film yang lolos Bechdel Test.

  • Kill Bill Vol. 1 and 2 (2003–2004)
  • Frozen (2013)
  • Mad Max: Fury Road (2015)
  • Hidden Figures (2016)
  • Wonder Woman (2017)
  • Beauty and the Beast (2017)
  • Star Wars VIII (2017)
  • CODA (2021)
  • Don't Look Up (2021) 
  • Licorice Pizza (2021) 
  • Tick, Tick … Boom! (2021) 

Tak pernah ditujukan untuk menjadi metode pengukuran keterwakilan kesetaraan gender yang serius, tetapi kriteria Bechdel atas tontonan film yang muncul di komik terbitan tahun 1985 tersebut  sedari awal 2000-an menjadi sebuah teori yang tidak sedikit digunakan selaku kritik film. 

Menjelang pengumuman Oscar biasanya Bechdel Test banyak dipakai oleh berbagai media besar di seluruh dunia untuk mengamati film mana sajakah yang layak menjadi pemenang Oscar menurut Bechdel Test atau bagaimana secara umum seluruh nominator Oscar sudah dengan sungguh-sungguh memertimbangkan isu kesetaraan gender ini di film-filmnya.

Maman Malmsteen
Maman Malmsteen Aktif menulis sejak tahun 1986 di media massa. Menjadi announcer di Radio Fantasy 93,1 FM sejak tahun 1999. Menjadi Blogger sejak tahun 2010. Sekarang aktif sebagai Content Writer untuk beberapa Blog/Website.

Posting Komentar untuk "Melihat Representasi Perempuan dalam Film Lewat Bechdel Test Fest"