IBX5B7AAC72C70DE Mengenal Cuci Darah (Hemodialisis) pada Penderita Penyakit Gagal Ginjal - Serambi Bisnis

Mengenal Cuci Darah (Hemodialisis) pada Penderita Penyakit Gagal Ginjal

SerambiBisnis.com - Air merupakan komponen yang sangat penting di dalam kehidupan. Di dalam ilmu pengetahuan yang diketahui manusia tentang susunan dan fungsi sel mengatakan kalau air merupakan unsur paling penting dalam penyusunan sel yang menjadi satuan konstruksi pada tiap-tiap makhluk hidup, baik hewan ataupun tumbuhan. Biokimia mengatakan kalau air ialah unsur yang amat penting pada tiap-tiap interaksi dan perubahan yang berlangsung di di dalam tubuh makhluk hidup.

Air bisa berperan sebagai sarana, unsur pembantu, bagian dari terjadinya interaksi, malahan hasil dari rangkaian berhubungan itu sendiri. Sementara itu, fisiologi menyatakan, air diperlukan sekali supaya setiap organ bisa berperan dengan baik. Berhentinya peran itu akan mengakibatkan kematian. Hal itu sesuai dengan salah satu penyakit yang berkaitan dengan organ yang mengatur cairan dalam tubuh manusia, yaitu ginjal.

Cuci darah atau hemodialisis adalah tindakan yang dilakukan kepada penderita penyakit gagal ginjal. Hal itu disebabkan ginjal penderita mengalami penurunan fungsi sehingga tidak bisa menyaring kotoran/zat-zat sisa metabolisme yang tidak berguna atau racun yang ada dalam tubuh sehingga racun tetap berada di dalam tubuh dan membahayakan kondisi penderita. Proses pencucian darah dilakukan dengan menggunakan mesin dialisis yang menggantikan fungsi ginjal.

Cara kerja mesin dialisis mirip dengan yang dilakukan oleh ginjal. Mesin ini memiliki perangkat yang dinamakan dialiser yang di dalamnya terdapat dua kompartemen atau ruangan yang terdiri atas kompartemen darah, yaitu ruangan yang berisi darah dan kompartemen dialisat, yaitu ruangan yang berisi dialisat atau larutan yang mengandung elektrolit dalam komposisi tertentu. Di dalam dialiser terdapat membran-membran kecil yang berfungsi menyaring racun-racun yang terdapat dalam darah. Bagian dari mesin digunakan untuk mencatat dan mengontrol aliran darah, suhu, serta tekanan.

Agar darah dari dalam tubuh dapat masuk ke dialiser dan sebaliknya dari dialiser masuk ke tubuh, diperlukan akses. Koneksi/jalan dibuat dengan membuka pembuluh darah melalui tindakan arteriovenous fistula (AV fistula), yaitu membuat koneksi dari pembuluh darah arteri ke pembuluh darah Vena.

Biasanya pada lengan di pergelangan tangan atau daerah lengan dekat siku. Pembuatan akses bisa juga dengan menggunakan metode arteriovenous graft (AV graf), yaitu melakukan pencakokan tabung sintetis. Bisa juga dengan metode central venous catheter.

Untuk pasien yang memerlukan cuci darah secara rutin, biasanya menggunakan AV fistula yang relatif lebih aman dan nyaman. Darah yang keluar dari dalam tubuh melalui pembuluh darah arteri yang telah dibuatkan koneksi akan masuk ke dialiser kurang lebih 500 ml per menit.

Perlu diketahui juga bahwa jumlah darah yang dimiliki manusia sekitar 6.000 ml sampai dengan 7.000 ml. Darah yang telah disaring/dibersihkan dari racun oleh dialiser akan dialirkan kembali ke dalam tubuh melalui pembuluh darah vena yang terkoneksi dengan alat dialisis.

Lama waktu yang dibutuhkan dalam satu kali proses pencucian darah rata-rata 3-5 jam yang dilaksanakan bisa 1,2, bahkan 3 kali per minggu bergantung pada tingkat kerusakan ginjal yang diderita oleh pasien tersebut. Oleh karena itu, dalam proses pelaksanaannya memerlukan tempat/fasilitas pendukung yang memadai agar pasien merasa nyaman saat menjalani proses cuci darah.

Share this article :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Herbal

Kuliner

Properti

Teknologi

Kecantikan

Kesehatan

Otomotif

Wisata