IBX5B7AAC72C70DE Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, Tempat Menarik untuk Menelusuri Sejarah Sumedang - Serambi Bisnis -->

Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, Tempat Menarik untuk Menelusuri Sejarah Sumedang

SerambiBisnis.com - Perjalanan panjang Sumedang yang dimulai dari era kerajaan hingga berbentuk kabupaten, meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Berbagai peninggalan berupa artefak, naskah, dan benda-benda bersejarah lain, kini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Lewat museum tersebut, benda-benda bersejarah itu jadi terpelihara dan menjadikan kegiatan menelusuri sejarah Sumedang lebih menarik.

Kompleks Museum Prabu Geusan Ulun memiliki luas sekitar 1,8 hektare, terdiri atas enam bangunan. Hampir semua bangunan dulunya merupakan rumah bupati dan kerabatnya. Usianya juga sudah ratusan tahun, tetapi masih terawat dengan baik. Setiap bangunan memiliki tema tersendiri, disesuaikan dengan koleksi museum yang disimpan di masing-masing gedung.

Bangunan pertama adalah Gedung Srimanganti yang didirikan pada 1706 di era pemerintahan Dalem Adipati Tanoemadja. Dahulu, gedung Srimanganti dikenal sebagai land huizen atau rumah negara. Pada 1982 dan 1993, Gedung Srimanganti direhabilitasi. Gedung Srimanganti menyimpan koleksi mengenai raja dan bupati yang pernah memimpin Sumedang. Informasi mengenai siapa saja yang pernah memimpin Sumedang cukup lengkap.

Ada pula Gedung Bumi Kaler, tempat menyimpan naskah kuno Sumedang yang kebanyakan berbahasa Arab. Koleksi museum berupa senjata pusaka seperti keris, kujang, dan tombak tersimpan di Gedung Gendeng. Ini merupakan bangunan pertama yang dijadikan tempat menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan leluhur Sumedang. Gedung Kaler dan Gedung Gendeng sama-sama berdiri pada 1850. 


Pada 1973, didirikan Gedung Gamelan yang merupakan sumbangan dari Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Gedung itu menyimpan koleksi alat musik kuno Sumedang, kebanyakan gamelan. Selain gamelan yang dibuat di Jawa Barat, terdapat pula beberapa koleksi yang dibuat di Thailand. Ada pula gedung yang menjadi ikon museum, yakni Gedung Pusaka Khusus. Di dalam bangunan ini terdapat mahkota yang dipakai oleh raja-raja Sumedang. Tersimpan juga koleksi senjata termasuk pusaka tujuh.

Bangunan paling terakhir didirikan di Museum Prabu Geusan Ulun pada 1996 adalah Gedung Kereta. Tersimpan kereta yang biasa dipakai oleh raja dan bupati kala itu. Kereta-kereta itu dulunya ditarik oleh manusia.

Semula, benda-benda yang ada di Museum Prabu Geusan Ulun disimpan oleh Pangeran Aria Soeria Atmadja, Bupati Sumedang (1882-1919). Pada 1950, ahli waris Pangeran Aria Soeria Atmadja membentuk Yayasan Pangeran Aria Soeria Atmadja yang kemudian berganti nama menjadi Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) yang tujuannya melestarikan peninggalan leluhur Sumedang.

Barang-barang yang dikumpulkan YPS disimpan di Gedung Gendeng. Rencana YPS untuk mendirikan museum baru terealisasi pada 11 November 1973 dengan nama Museum Wargi-Yayasan Pangeran Sumedang. Bangunan utama yang digunakan adalah Gedung Gamelan yang baru didirikan.

Pada 1974, dalam Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri para ahli sejarah, nama museum diusulkan diubah menjadi Prabu Geusan Ulun yang diambil dari nama Raja Sumedang Larang. [Sumber: Fitrah Ardiansyah/PRM/27/01/2019]

Lokasi : Jalan Prabu Geusan Ulun Nomor 40, Kabupaten Sumedang
Tahun berdiri : 11 November 1973
Beberapa koleksi : Mahkota Binokasih, Mahkota Kerajaan Pajajaran yang diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun, Keris Naga Sasra yang digunakan Oleh Pangeran Kornel, Kujang Wayang, dan Keris Panunggul Naga milik Prabu Geusan Ulun

Share this article :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Herbal

Kuliner

Properti

Teknologi

Kecantikan

Kesehatan

Otomotif

Wisata