IBX5B7AAC72C70DE Kisah Sukses Natalia Sunanto, Dari Hobi Jadi Bisnis - Serambi Bisnis

Kisah Sukses Natalia Sunanto, Dari Hobi Jadi Bisnis


SerambiBisnis.com - Setiap orang punya hobi. Namun tidak semua orang menjadikan hobi itu sebagai ladang bisnis yang menghasilkan. Padahal, ketika hobi yang disukai berkembang menjadi bisnis, proses naik-turun yang dilalui pun akan lebih menyenangkan hati. Berikut adalah kisah sukses Natalia Sunanto, dari hobi jadi bisnis.

Natalia Sunanto adalah perempuan bertubuh langsing kelahiran Tasikmalaya, 15 Desember 1989 yang menjalani bisnis kuliner dengan sajian makanan bercita rasa manis yang setiap hari dibuat dengan tangan sendiri.

Setiap hari, ia masih harus mencoba semua hasil produksi. Meski resepnya sama tetap harus dicoba karena takut ada yang missed. Cokelat yang ia olah itu bisa jadi berubah rasa dan tekstur kalau beda sedikit saja cara pengolahannya. Jadi, harus tetap dicoba. 

Mengonsumsi makanan berbahan dasar cokelat memang menjadi kesukaannya yang sekarang ditekuni menjadi profesi dengan mengelola bisnis kuliner produksi rumahan. Ia memilih nama Hombaker sejak dua tahun lalu untuk merek produknya karena memang masih memproduksi di rumah sendiri.

Menurut dia, kegemarannya makan cokelat ada syaratnya, yaitu tidak ingin gemuk dan tidak ingin apa yang disantap berpengaruh buruk bagi kesehatan. Ia pun sadar, ada banyak orang yang senang makan cokelat tetapi tidak ingin gemuk. Ada pula yang sedang menjalani diet tetapi tetap ingin menikmati cokelat yang lezat.


Sejak kuliah di Fashion Design Universitas Kristen Maranatha, ia sering membuat roti dan kue sendiri menggunakan bahan-bahan yang lebih sehat. Saat itulah teman-teman mulai menyarankan untuk diseriusi menjadi bisnis. Awalnya, sekitar 2009, ia produksi roti dan kue sehat. Beberapa tahun ke belakang membuat chocolate melt khas Jepang yang sekarang diproduksi setiap hari dan paling diminati.

Memulainya bukan hal mudah, meskipun ia sudah sering membuat kue. Kue yang mula-mula dibuatnya adalah rainbow cake. Untuk setiap jenis olahan kue, ia bisa sampai gagal 30 kali sebelum akhirnya mendapatkan tekstur dan rasa yang diinginkan.

Natalia bukan hanya berkiprah di bidang kuliner. Sebelumnya, ia juga menggeluti bisnis di bidang fashion sesuai jurusan kuliah. Perempuan yang menempuh pendidikan dasar dan menengah di Sekolah Kristen BPK Penabur Tasikmalaya itu pernah memiliki brand yang dikelola berdua bersama temannya. Ketika dalam proses mempersiapkan pernikahan dan mengurus bisnis kuliner, ia merasa harus melepaskan salah satu dan bisnis fashionlah yang disudahinya.

Karena sempat menjalani keduanya bersamaan, ia sudah merasakan tantangan yang berbeda. Namun, karena bisnis kuliner sudah lebih serius digeluti, semakin banyak pula tantangan yang dihadapinya. Misalnya, tantangan inovasi supaya orang ingin selalu membeli produknya. Namun, itu berdampak ke tantangan selanjutnya, yaitu menghadapi produksi yang berkali lipat dan proses pengiriman ke konsumen. Penyuka warna shocking pink itu masih memegang proses masaknya sendiri. Pegawai yang dipekerjakannya hanya membantu untuk mengemas, mencuci peralatan, dan pekerjaan lainnya yang tidak berkaitan langsung dengan proses masak.

Natalia Sunanto belum berani menyerahkan ke pegawai karena harus presisi sekali. Jadi, sampai sekarang masih masak malam sampai subuh, lalu pegawai datang untuk mengemas, mengatur pengiriman, dan membersihkan. Kalau pesanan ramai, ibunya datang membantu. Meski begitu, ia mengungkapkan rencananya untuk bisa mengajarkan pegawai yang bisa dipercaya memproduksi. Alasannya, ia ingin melebarkan sayap bisnis dengan membuka outlet Homfeaker supaya mempermudah konsumen yang ingin membeli dadakan sebagai oleh-oleh sebelum bepergian. Ia mulai menjual produk Hombaker di gerai terpisah dengan menitipkannya di toko milik temannya, Yes Ice Please, di Jalan Lengkong Besar Nomor 37 Kota Bandung.

Sekarang memang omzetnya terus naik. Dari yang awalnya hanya terjual dua kotak sehari, sekarang bisa 50-an. Itu semua dasarnya hobi, jadi rasanya menyenangkan saja walaupun mengalami gagal atau kendala dari pihak lain seperti pengirim yang tidak hati-hati sehingga produknya harus diganti. Semua hal ada positif-negatifnya, dijalani saja. [Vebertina Manihuruk / Maman Soleman / PRM / 05082018]

Share this article :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Herbal

Kuliner

Properti

Teknologi

Kecantikan

Kesehatan

Otomotif

Wisata