IBX5B7AAC72C70DE Rafflesia si Bunga Ajaib, Apa sih Ajaibnya? - Serambi Bisnis -->

Rafflesia si Bunga Ajaib, Apa sih Ajaibnya?


SerambiBisnis.com - Cantik tapi penyebar bau bangkai. Hidup dari 'nebeng' tanaman lain. Merayu serangga hingga mau jadi makelar perkawinannya. Itulah dia.

Kalau kita iseng tanya pada penjual tanaman bunga tentang si cantik bunga Bangkai ini, pasti jawabannya sama. Bunga apa? Saya belum pernah melihat bunganya." Memang, si bunga ajaib ini masuk kategori tanaman langka. Kita tidak akan menemukannya di pinggir-pinggir jalan, apalagi di halaman rumah. Si bunga ajaib ini lebih senang hidup di hutan-hutan dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1500 meter dari permukaan laut.

Bagi yang sedang pergi tamasya ke hutan pun tidak akan mudah menemukan bunga ini. Jangankan dicari sambil iseng, dicari dengan sungguh-sungguh saja sulit banget ditemukannya. Kalau tidak kebetulan sekali tidak akan ketemu. Tapi kalau kita sudah menemukan dan melihat si bunga ajaib itu pasti akan kagum dibuatnya. Akan tetapi jangan coba-coba untuk memetiknya, apalagi memilikinya.....taruhannya bui (penjara). Karena si bunga ajaib yang juga penipu, alias bunga pemakan serangga dilindungi Undang Undang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian N0.6/PMP/1961 tanggal 9 Agustus 1961.

Apa sih ajaibnya?
"Sewaktu Thomas Stamford Raffles, 197 tahun yang lalu, secara tak disengaja menemukan bunga ini di hutan Bengkulu, Sumatera, tidak saja heran melihat bunga dengan ukuran raksasa. Setelah mengagumi kecantikannya, ia lebih terbelalak lagi matanya melihat bunga itu tidak mempunyai batang dan daun. Yang tiba-tiba saja nongol bunga dari akar sejenis tanaman yang hidup merambat dan memanjat pada sebatang pohon raksasa. Kalau dilihat sepintas lalu, pohon raksasa itu itulah yang punya sulur. Lalu pada sulur itu tumbuh bunga ajaib yang lagi mekar. 

Selidik punya selidik, ternyata tanaman itu hidup menumpang dengan akar tanaman liana (perambat) yang tidak lain adalah Tetrassigma sp, dari keluarga Vitaceae yang masih punya hubungan dekat dengan anggur (Vitis vinifera). Untuk mengabadikan sang penemu bunga, kemudian bunga itu diberi nama latin Rafflesia sp.

Sial memang menimpa akar liana tadi. Di sana sini ada bagian yang muncul di permukaan tanah, yang sewaktu-waktu ketempelan biji-biji bunga Rafflesia yang terbawa binatang. Begitu biji nempel di akar liana tadi, pasti kemudian bertunas. Malah setelah bertunas, ia merayap menembus kulit akar dari inangnya, untuk mengambil sari makanan dari pohon inangnya, jadi kalau kita pikir-pikir lagi.... persis tumbuhan parasit.

Si bunga ajaib tadi jadi tidak perlu susah-susah membentuk daun, batang dan meramu bahan makanannya. Jadi biji-biji yang nempel dan bertunas tadi, tahu-tahu, "ceprot" nongol si bunga ajaib sebesar bola.

Ternyata setelah para peneliti mengobrak-abrik hutan-hutan yang ada di Indonesia jenisnya banyak sekali antara lain, Rafflesia rochussenii (Jawa Barat), Rafflesia patma (Jawa Tengah & Barat), Rafflesia horsfilldii (Jawa), Rafflesia zollingeriana (Jawa Timur), Rafflesia borneensis (Kalimantan), Rafflesia cilliata, dan Rafflesia witkampi (Kalimantan Timur), Rafflesia lowi (Kalimantan & Sumatera), Rafflesia tuanmudae (Kalimantan Barat & Sarawak), Rafflesia arnoldii (Sumatera Barat, Utara dan Aceh), Rafflesia hasseltii (Sumatera Barat) dan Rafflesia cantieyi (Sumatera bag. Timur). 

Bunga Rafflesia yang berkelamin satu itu, terpaksa minta diserbuki oleh bunga Rafflesia yang lain. Dari satu jenis lho! Ternyata yang bisa diharapkan cuma lalat dan serangga-serangga kecil yang diharapkan jasa baiknya sebagai makelar perkawinannya. Nah, untuk memikat sang makelar tadi, bunga itu menyebarkan bau yang aduhai 'sedapnya'. Dari bau inilah kemudian ada yang menamakannya bunga Bangkai.

Bau-bauan ini sebenarnya dihasilkan oleh ketel yang menganga dari bunga itu. Serangga-serangga yang mencium bau busuk itu akan terpikat, dan "ach, mampir bentar, siapa tahu ada makanan.", tahu-tahu serangga tadi masuk ke dalam jatuh menimpa tanaman inangnya, dan tempat hidupnya juga mendukungt ia akan bertunas meneruskan keturunannya. 

Share this article :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Herbal

Kuliner

Properti

Teknologi

Kecantikan

Kesehatan

Otomotif

Wisata