IBX5B7AAC72C70DE 4 Pemimpin yang Adil, Arif, Bijaksana dan Benar menurut Undang-undang Allah SWT - Serambi Bisnis

4 Pemimpin yang Adil, Arif, Bijaksana dan Benar menurut Undang-undang Allah SWT

SerambiBisnis.com - Sudah kita ketahui bersama bahwa makhluk manusia telah dibentuk Allah SWT dalam wujud yang sempurna. Keberadaannya dilengkapi dengan perangkat hidup yang sempurna pula. Mulai dari panca indera, sampai dengan wujud jasmaniah dan rukhaniah yang terus menyatu, seirama; yang sanggup melahirkan berbagai aktivitas hidup. Kesempurnaan umat manusia di jelaskan Alloh SWT dalam Al-Quran yang artinya: "Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (Neraka) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. " (QS. At-Tin : 4-6)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa sebenarnya umat manusia telah diangkat derajatnya ke posisi yang lebih tinggi, akan tetapi jika umat manusia tidak bisa memfungsikan dirinya sendiri akan dilemparkan ke tempat yang lebih hina, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh. Dengan kesempurnaannya Allah SWT telah memberikan tugas berat kepada umat manusia yaitu untuk menjadikan khalifatun fil ardli; sebagai pemimpin, pengelola, dan pemelihara bumi sesuai dengan petunjuk dari Allah SWT. Sebagai firman Allah SWT yang artinya:”Ingatlah ketika Tuhanmu (Allah) berfirman kepada Malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)


Akan tetapi pada kenyataannya yang seharusnya mereka memakmurkan bumi ini namun sebaliknya justru banyak di antara kita yang dengan sengaja telah membuat kerusakan, keonaran, kefasikan, bahkan mereka kufur kepada nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Karena itu tidaklah heran bila bumi yang kita cintai ini ternyata dilanda dengan berbagai krisis dan bencana yang tidak henti-hentinya.

Allah SWT berfirman yang artinya:”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah SWT, merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatannya, agar mereka kembali kepada jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)

Selain itu, ingatlah firman Allah yang berkaitan dengan dasar-dasar pemerintahan yang artinya: "Sesunguhnya Allah SWT menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukuman di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat." (QS. An-Nisa; 58)

Mari kita perhatikan sejarah pemimpin yang adil, arif, bijaksana dan benar menurut Undang-undang Allah SWT yaitu: Khalifatur Rasidin, para pemimpin yang memperoleh petunjuk dari Allah SWT. Mereka itu adalah: 
1. Abu Bakar Ashiddiq; Menjelang akhir hayatnya dia bertanya kepada petugas baitul maal. "Berapa uang tunjangan yang telah dia ambil selama 2,5 tahun menjadi khalifah? Petugas menjawab; "6000 dirham" Abu Bakar memerintahkan agar tanah miliknya dijual dan seluruh hasilnya supaya diserahkan ke baitul maal (lembaga keuangan negara), sedangkan seekor unta dan sepotong baju milik pribadinya ia wariskan kepada khalifah yang baru.
2. Umar bin Khatab: Ketika khalifah Umar menerima warisan seekor unta dan sepotong baju dari khalifah pertama dia tidak kuat menahan tangisnya. Akhirnya dia pun sangat berhati-hati dan mengikuti gerak langkah khalifah yang pertama. Dia pernah mengucapkan: ''Aku tidak berkuasa atas harta baitul maal (keuangan negara). Aku hanyalah sekedar petugas untuk menjaganya aku harus bekerja di atas prinsif kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. "
3. Usman bin Affan, Dia terkenal seorang muslim yang kaya raya lagi dermawan. Dia tidak pernah mengambil gaji dan tunjangan dari Baitul Maal selama memerintah, salah satu pidatonya yang sangat masyur: "Disaat kendali pemerintahan dipercayakan kepadaku, Aku pemilik unta dan kambing terbanyak di Arab, sekarang aku tak punya kambing maupun unta lagi, kecuali dua unta untuk menunaikan ibadah haji. "
4. Ali bin Thalib; Dia terkenal dengan kesederhanaan bahkan di rumahnya sendiri pun tidak memiliki seorang pembantu, akan tetapi dia tidak kalah adil dan bijaksana oleh khalifah yang lainnya, bahkan diapun terkenal dengan kedermawanannya. (Jamil Ahmad, 100 muslim terkenal halaman 16) 

Rasanya kita sangat malu, jika kita memperhatikan cara hidupnya khalifaturrasyidin; mereka telah berhasil memenangkan kepercayaan rakyatnya. Mereka tidak hanya mampu untuk mengusir musuh dari negerinya sendiri, akan tetapi mereka mampu memerangi hawa nafsunya dari berbagai keserakahan, keangkuhan, dan kefasikan. Mereka sangat berhati-hati dalam memimpin rakyatnya, mereka takut jika rakyatnya kelaparan, bodoh dan terbelakang. Namun sebaliknya mereka pun tidak takut dirinya dan keluarganya menjadi miskin dan kekurangan. Ingatlah masing-masing di antara kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin harus mempertanggungjawabkan apa dan siapa yang dipimpinnya. Seorang individu harus mempertanggungjawabkan keluarganya, seorang pejabat harus mempertanggungjawabkan jabatannya, dsb.

Jika hari ini dan sebelumnya kita telah menyadari atas kekurangan diri kita, para pejabat kita, dan para pemimpin lainnya, maka mari kita bersama untuk memperbaiki diri dan berlomba dalam kebaikan dan kebenaran sehingga Allah SWT akan memilih kita menjadi hambanya yang selamat dunia dan akhirat. Jika para pemimpin dan para pejabat adil telah menduduki jabatannya janganlah sekali-kali lagi untuk membuat kerusuhan, dan kecongkakan di muka bumi. Janganlah sekali-kali berbicara tanpa dipikirkan, janganlah sekali-kali bertindak sebelum direncanakan, dan jika ada persengketean kembalilah kepada Allah SWT, dan Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil' Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (Al-Qur'an) dan Rasul-Nya (Sunahnya) jika kamu benar-benar beriman kepad Allah SWT dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa; 59)

Share this article :

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Herbal

Kuliner

Properti

Teknologi

Kecantikan

Kesehatan

Otomotif

Wisata