Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
iklan space 728x90px

Resign atau Bertahan? Pertanyaan yang Perlu Dijawab Jujur Sebelum Ambil Keputusan


Keputusan resign atau bertahan sering muncul ketika pekerjaan mulai terasa melelahkan. Situasi tersebut dapat membuat seseorang ingin segera meninggalkan pekerjaannya tanpa pertimbangan matang.

Padahal, keputusan karier memiliki dampak panjang terhadap keuangan dan kehidupan pribadi. Karena itu, sebelum memilih resign atau bertahan, penting menjawab beberapa pertanyaan secara jujur.

Mengapa Keputusan Resign Tidak Boleh Terburu-buru?

Resign bukan sekadar meninggalkan kantor atau mencari pekerjaan baru. Keputusan ini juga berkaitan dengan pendapatan, stabilitas hidup, dan arah karier.

Menurut survei Gallup, keterlibatan pekerja global pada 2024 hanya sekitar 21%. Angka tersebut menunjukkan banyak pekerja belum merasa benar-benar terlibat dengan pekerjaannya.

Namun, rasa tidak nyaman tidak selalu berarti harus resign. Sumber masalah perlu dikenali sebelum keputusan dibuat.

Apakah Masalahnya Ada pada Pekerjaan?

Coba pisahkan masalah pekerjaan dari masalah lingkungan kerja. Beban kerja tinggi mungkin berasal dari periode tertentu.

Konflik dengan atasan juga belum tentu menggambarkan seluruh perusahaan. Jika masalah hanya terjadi pada satu tim, pindah divisi mungkin menjadi alternatif.

Sebaliknya, kondisi perlu dipertimbangkan lebih serius jika masalah berlangsung lama. Terutama jika tidak ada perubahan setelah komunikasi dilakukan.

Apakah Pekerjaan Masih Mendukung Tujuan Karier?

Pekerjaan idealnya membantu seseorang bergerak menuju tujuan profesional. Pengalaman, keterampilan, jaringan, dan tanggung jawab seharusnya terus berkembang.

Jika pekerjaan tidak lagi memberikan ruang belajar, evaluasi perlu dilakukan. Tanyakan apakah posisi tersebut masih relevan dengan rencana karier dalam dua sampai lima tahun.

Pertanyaan Penting Sebelum Memilih Resign atau Bertahan

Tidak ada jawaban universal untuk dilema resign atau bertahan. Keputusan terbaik bergantung pada kondisi finansial, profesional, dan pribadi masing-masing.

Karena itu, gunakan pertanyaan berikut sebagai alat evaluasi sebelum mengambil keputusan.

Apakah Saya Hanya Sedang Lelah?

Kelelahan dapat membuat pekerjaan terlihat jauh lebih buruk. Jangan mengambil keputusan besar hanya setelah mengalami minggu yang sangat berat.

Berikan waktu untuk beristirahat dan mengevaluasi situasi. Jika setelah kondisi lebih tenang masalah tetap terasa sama, penyebabnya mungkin lebih mendasar.

Apakah Saya Sudah Mencoba Memperbaiki Situasi?

Sebelum resign, pikirkan solusi yang masih tersedia. Misalnya, membicarakan beban kerja dengan atasan atau meminta perubahan tanggung jawab.

Anda juga dapat mencari peluang rotasi atau pengembangan keterampilan. Jika semua opsi internal sudah dicoba tanpa hasil, resign menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Bagaimana Kondisi Keuangan Saya?

Keuangan menjadi pertimbangan penting sebelum meninggalkan pekerjaan. Idealnya, seseorang memiliki dana darurat sebelum kehilangan penghasilan rutin.

Hitung kebutuhan hidup bulanan dan kewajiban yang harus tetap dibayar. Pertimbangkan pula cicilan, biaya keluarga, serta kebutuhan kesehatan dan pendidikan.

Jangan mengandalkan asumsi bahwa pekerjaan baru pasti segera diperoleh. Proses mencari pekerjaan dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Apakah Saya Sudah Memiliki Rencana Setelah Resign?

Resign tanpa rencana dapat menciptakan tekanan baru. Karena itu, tentukan langkah setelah meninggalkan pekerjaan.

Rencana tersebut dapat berupa mencari pekerjaan baru, membangun bisnis, mengambil pendidikan, atau beristirahat sementara.

Semakin jelas rencananya, semakin mudah mengukur risiko keputusan tersebut.

Tanda Bertahan Masih Menjadi Pilihan yang Baik

Bertahan bukan berarti takut mengambil risiko. Dalam situasi tertentu, bertahan justru menjadi strategi untuk memperkuat posisi sebelum melangkah.

Evaluasi beberapa kondisi berikut sebelum mengajukan surat pengunduran diri.

Masih Ada Peluang Berkembang

Jika perusahaan menawarkan pelatihan dan promosi, peluang tersebut patut dipertimbangkan. Pengalaman tersebut dapat meningkatkan nilai Anda di pasar kerja.

Pekerjaan yang terasa berat juga bisa menjadi fase pembelajaran. Pastikan tekanan tersebut menghasilkan keterampilan yang berguna.

Masalah Masih Bisa Diselesaikan

Konflik kerja tidak selalu menjadi alasan untuk pergi. Masalah komunikasi dapat diperbaiki melalui pembicaraan yang terbuka dan profesional.

Jika perusahaan bersedia melakukan perubahan, berikan kesempatan. Tetapkan batas waktu untuk melihat apakah perbaikan benar-benar terjadi.

Tanda Resign Perlu Dipertimbangkan Serius

Ada kondisi tertentu yang membuat bertahan justru dapat menghambat perkembangan karier. Situasi tersebut perlu dinilai berdasarkan pola yang berlangsung konsisten.

Tidak Ada Perkembangan yang Jelas

Jika tanggung jawab bertambah tetapi kesempatan berkembang tidak tersedia, evaluasi diperlukan. Kondisi tersebut dapat membuat karier berjalan tanpa arah.

Perhatikan juga keterampilan yang diperoleh selama bekerja. Jika tidak ada kemampuan baru yang relevan, peluang eksternal mungkin perlu dipertimbangkan.

Nilai Pribadi Terus Bertentangan dengan Pekerjaan

Perbedaan nilai dapat membuat pekerjaan terasa semakin berat. Misalnya, budaya perusahaan bertentangan dengan prinsip profesional yang Anda pegang.

Jika kompromi terus terjadi, kepuasan kerja dapat semakin menurun. Mencari lingkungan kerja yang lebih sesuai bisa menjadi pilihan rasional.

Sudah Memiliki Alternatif yang Lebih Baik

Resign menjadi lebih terukur ketika peluang berikutnya sudah tersedia. Pastikan tawaran baru memiliki kondisi yang benar-benar lebih baik.

Jangan hanya membandingkan nominal gaji. Pertimbangkan budaya kerja, jenjang karier, lokasi, fleksibilitas, dan manfaat lainnya.

Cara Membuat Keputusan Resign atau Bertahan

Keputusan akan lebih objektif jika dibuat berdasarkan data, bukan emosi sesaat. Anda dapat membuat tabel sederhana dengan beberapa faktor penting.

Beri nilai untuk gaji, lingkungan kerja, peluang berkembang, beban kerja, stabilitas, dan keseimbangan hidup. Bandingkan kondisi pekerjaan sekarang dengan alternatif yang tersedia.

Selanjutnya, buat skenario terburuk. Tanyakan apakah Anda mampu bertahan secara finansial jika belum mendapatkan pekerjaan baru.

Jika jawabannya belum, persiapkan dana dan peluang terlebih dahulu. Jika kondisi sudah mendukung, keputusan resign dapat dilakukan dengan lebih percaya diri.

**********

Keputusan resign atau bertahan bukan tentang pilihan yang paling berani. Pilihan terbaik adalah keputusan yang sesuai dengan kondisi, tujuan karier, dan kemampuan menghadapi risikonya. Sebelum menyerahkan surat pengunduran diri, pastikan Anda sudah memahami alasan, konsekuensi, dan rencana setelahnya.


Maman Malmsteen
Maman Malmsteen Aktif menulis sejak tahun 1986 di media massa. Menjadi announcer di Radio Fantasy 93,1 FM sejak tahun 1999. Menjadi Blogger sejak tahun 2010. Sekarang aktif sebagai Content Writer untuk beberapa Blog/Website.

Posting Komentar untuk "Resign atau Bertahan? Pertanyaan yang Perlu Dijawab Jujur Sebelum Ambil Keputusan"

Follow Berita/Artikel Serambi Bisnis di Google News